Dilihat : 34 kali
SERI EDUKASI UMKM BATAM #060
Jangan Hanya Mengukur Hasil, Jadikan yang Berhasil sebagai Sistem
Pada Seri Edukasi UMKM Batam #059, kita membahas satu hal yang sering dilupakan setelah melakukan perbaikan konten:
Jangan hanya memperbaiki. Ukur hasilnya.
Kita belajar melihat perubahan:
PERBAIKI → UKUR → BANDINGKAN → PELAJARI → PERBAIKI LAGI
Namun setelah kita mendapatkan hasil pengukuran, muncul pertanyaan berikutnya:
Kalau ternyata ada bagian yang bekerja dengan baik, lalu apa yang harus kita lakukan?
Apakah cukup mengatakan:
“Ternyata cara ini berhasil.”
Lalu selesai?
Sayangnya, kalau berhenti di situ, kita kembali kehilangan kesempatan.
Karena hasil yang sudah terbukti bekerja seharusnya tidak hanya menjadi informasi.
Hasil tersebut bisa menjadi dasar untuk membangun sistem.
Inilah yang kita bahas pada Seri Edukasi UMKM Batam #060.
Jangan Berhenti pada Angka
Bayangkan Anda memperbaiki sebuah artikel.
Judul diperjelas.
Pembuka dibuat lebih kuat.
Internal link ditambahkan.
CTA diperbaiki.
Kemudian setelah dievaluasi, ternyata perjalanan pembaca menjadi lebih baik.
Artinya kita mendapatkan sesuatu yang berharga.
Bukan hanya angka.
Tetapi:
PEMBELAJARAN.
Kita mulai mengetahui bahwa perubahan tertentu ternyata membantu perjalanan pelanggan.
Masalahnya, banyak UMKM berhenti setelah menemukan hasil tersebut.
Padahal seharusnya kita bertanya:
“Bagaimana cara mengulangi keberhasilan ini?”
Di sinilah perbedaan antara:
MELAKUKAN PERBAIKAN
dan
MEMBANGUN SISTEM.
Dari “Berhasil Sekali” Menjadi “Bisa Diulang”
Sesuatu yang berhasil satu kali belum tentu menjadi sistem.
Misalnya sebuah artikel mendapatkan banyak perhatian setelah judulnya diperbaiki.
Kita bisa mengatakan:
“Judul baru ini lebih menarik.”
Tetapi sistem mulai terbentuk ketika kita mencatat:
-
bagaimana judul sebelumnya,
-
apa yang diubah,
-
mengapa diubah,
-
bagaimana struktur judul baru,
-
apa yang terjadi setelah perubahan,
-
dan bagaimana prinsip tersebut bisa diterapkan pada konten lain.
Dengan begitu kita tidak hanya mempunyai:
SATU KONTEN YANG BERHASIL.
Kita mulai mempunyai:
POLA YANG BISA DIPELAJARI.
Dan pola tersebut dapat digunakan kembali.
Rumus #060
Jika #059 menggunakan:
PERBAIKI → UKUR → BANDINGKAN → PELAJARI → PERBAIKI LAGI
Maka pada #060 kita lanjutkan menjadi:
PERBAIKI → UKUR → TEMUKAN POLA → DOKUMENTASIKAN → ULANGI
Inilah langkah penting.
Karena tanpa dokumentasi, pembelajaran mudah hilang.
Hari ini kita tahu sesuatu bekerja.
Beberapa minggu kemudian kita lupa mengapa.
Akhirnya kita kembali mencoba dari awal.
UMKM Tidak Selalu Kekurangan Ide
Sering kali masalah UMKM bukan kekurangan ide.
Justru sebaliknya.
Ada terlalu banyak ide.
Hari ini ingin membuat artikel.
Besok ingin membuat video.
Lusa ingin membuat poster.
Kemudian melihat kompetitor membuat sesuatu yang berbeda.
Akhirnya ikut mencoba.
Satu minggu kemudian strategi berubah lagi.
Akibatnya, bisnis terus bergerak tetapi tidak mempunyai pola kerja yang konsisten.
Padahal jika sudah menemukan sesuatu yang bekerja, kita seharusnya tidak buru-buru meninggalkannya.
Perkuat.
Dokumentasikan.
Ulangi.
Kemudian kembangkan.
Apa yang Dimaksud dengan Sistem?
Sistem tidak harus rumit.
Untuk UMKM, sistem sederhana justru sering lebih mudah dijalankan.
Misalnya kita menemukan pola:
PERTANYAAN PELANGGAN
↓
ARTIKEL
↓
INTERNAL LINK
↓
LANDING PAGE
↓
Jika pola tersebut terbukti membantu pelanggan, jangan hanya digunakan satu kali.
Jadikan pola tersebut sebagai:
TEMPLATE KERJA.
Setiap kali menemukan pertanyaan penting dari pelanggan, kita dapat mengulang proses yang sama.
Pertanyaan baru.
Artikel baru.
Internal link baru.
Landing page yang relevan.
CTA.
Kemudian evaluasi.
Dengan demikian, kita tidak selalu mulai dari nol.
Sistem Membuat Pekerjaan Lebih Ringan
Bayangkan setiap kali ingin membuat konten Anda harus berpikir:
“Sekarang saya harus mulai dari mana?”
Tentu melelahkan.
Tetapi jika sudah mempunyai sistem:
1. Temukan pertanyaan pelanggan.
2. Tentukan apakah pertanyaan layak menjadi konten.
3. Buat konten.
4. Hubungkan dengan konten lain.
5. Arahkan ke landing page.
6. Berikan CTA.
7. Ukur hasil.
8. Catat pembelajaran.
Maka pekerjaan menjadi lebih jelas.
Kita tidak lagi hanya:
MEMBUAT KONTEN.
Kita menjalankan:
SISTEM KONTEN.
Jangan Membuat Semua Konten dengan Cara yang Berbeda
Ini kesalahan lain yang sering terjadi.
Artikel pertama mempunyai struktur berbeda.
Artikel kedua berbeda lagi.
Artikel ketiga berbeda lagi.
CTA berubah-ubah.
Internal link tidak konsisten.
Landing page berdiri sendiri.
Akibatnya, setiap konten terasa seperti proyek baru.
Padahal kita dapat membuat pola dasar.
Misalnya:
Struktur Artikel
Masalah pelanggan
↓
Penjelasan
↓
Solusi
↓
Contoh
↓
Internal link
↓
Landing page
↓
CTA
Struktur ini tidak berarti semua artikel harus identik.
Tetapi mempunyai kerangka dasar membuat proses lebih konsisten.
Begitu Juga dengan Landing Page
Landing page juga dapat mempunyai sistem.
Misalnya:
Masalah pelanggan
↓
Solusi
↓
Produk/Jasa
↓
Manfaat
↓
Informasi penting
↓
Cara mendapatkan
↓
FAQ
↓
CTA
Kemudian setiap landing page dapat disesuaikan dengan produk atau jasa.
Contohnya pada kebutuhan Jual Rumput Gajah Mini Batam.
Calon pelanggan mungkin ingin mengetahui:
-
rumput seperti apa yang ditawarkan,
-
cocok untuk area apa,
-
bagaimana cara mendapatkan,
-
apakah tersedia untuk kebutuhan tertentu,
-
bagaimana cara bertanya,
-
dan bagaimana melakukan pemesanan.
Artinya landing page tidak cukup hanya mengatakan:
“Kami menjual rumput.”
Landing page harus membantu pelanggan bergerak dari:
INGIN TAHU
menjadi:
PAHAM
kemudian:
TERTARIK
dan akhirnya:
TAHU LANGKAH BERIKUTNYA.
Jadikan Data sebagai Bahan Membuat SOP
Ketika sebuah pola sudah beberapa kali digunakan dan memberikan hasil yang baik, kita bisa mulai membuat SOP sederhana.
Misalnya:
SOP Konten UMKM
Langkah 1
Cari pertanyaan pelanggan.
Langkah 2
Tentukan tujuan konten.
Langkah 3
Pilih format.
Langkah 4
Buat konten.
Langkah 5
Tambahkan internal link.
Langkah 6
Hubungkan ke landing page.
Langkah 7
Tambahkan CTA.
Langkah 8
Publikasikan.
Langkah 9
Ukur.
Langkah 10
Catat hasil.
Sekarang prosesnya sudah berubah.
Dari:
“Saya mau membuat konten.”
menjadi:
“Saya menjalankan sistem konten.”
Jangan Membuat Sistem yang Terlalu Rumit
Ada satu jebakan.
Ketika mendengar kata “sistem”, kita membayangkan sesuatu yang besar.
Padahal UMKM tidak harus membuat sistem yang rumit.
Mulai dari yang sederhana.
Misalnya cukup menggunakan satu spreadsheet.
Kolomnya:
| Topik | Format | URL | Internal Link | Landing Page | CTA | Hasil | Pembelajaran |
|---|
Dengan tabel sederhana ini, kita mulai mempunyai database pembelajaran.
Setelah beberapa bulan, kita bisa melihat:
Topik apa yang sering dicari?
Format apa yang sering digunakan?
CTA mana yang paling relevan?
Landing page mana yang sering menjadi tujuan?
Pertanyaan apa yang terus muncul?
Dari sinilah sistem berkembang.
Jangan Hanya Mengulang, Tetapi Kembangkan
Membangun sistem bukan berarti menyalin hal yang sama terus-menerus.
Sistem adalah fondasi.
Kemudian kita dapat mengembangkan.
Misalnya:
Konten A berhasil membawa pembaca ke landing page.
Kita pelajari polanya.
Kemudian buat:
Konten B.
Kemudian:
Konten C.
Kemudian muncul pertanyaan baru dari pelanggan.
Pertanyaan tersebut menjadi:
Konten D.
Akhirnya terbentuk sebuah kelompok konten yang saling terhubung.
Inilah yang sebelumnya kita bahas pada seri tentang content cluster.
Sekarang kita mulai melihat hubungannya:
SATU KONTEN
menjadi
BANYAK KONTEN TERHUBUNG
dan akhirnya menjadi
SISTEM INFORMASI UNTUK PELANGGAN.
Dari Satu Landing Page Menjadi Ekosistem
Misalnya sebuah UMKM mempunyai satu landing page.
Awalnya:
Landing Page
↓
Tetapi setelah sistem dibangun, alurnya dapat berkembang menjadi:
PERTANYAAN
↓
ARTIKEL
↓
ARTIKEL PENDUKUNG
↓
INTERNAL LINK
↓
LANDING PAGE
↓
↓
PERTANYAAN BARU
↓
KONTEN BARU
Inilah yang membuat aset digital semakin bernilai.
Bukan karena jumlah halamannya semata.
Tetapi karena:
HALAMAN-HALAMAN TERSEBUT SALING TERHUBUNG.
Contoh Sederhana: Rumput Gajah Mini Batam
Misalnya Anda mempunyai landing page:
Jual Rumput Gajah Mini Batam.
Jangan berhenti pada satu halaman.
Dari pertanyaan pelanggan, Anda bisa menemukan beberapa topik pendukung.
Contohnya:
Apa itu rumput gajah mini?
↓
Artikel edukasi.
Apakah rumput gajah mini cocok untuk taman rumah?
↓
Artikel pendukung.
Bagaimana cara menanam rumput gajah mini?
↓
Artikel panduan.
Bagaimana merawat rumput gajah mini?
↓
Artikel perawatan.
Kemudian semuanya dapat diarahkan kembali ke:
Landing Page Jual Rumput Gajah Mini Batam.
Dengan demikian, satu produk dapat melahirkan banyak informasi yang membantu calon pelanggan.
Ini jauh lebih kuat daripada membuat konten secara acak.
Sistem Membuat Konten Lama Tetap Berguna
Inilah keuntungan lainnya.
Jika semua konten saling terhubung, konten lama tidak harus mati setelah beberapa bulan.
Kita bisa:
-
memperbarui informasi,
-
menambahkan internal link,
-
menambahkan FAQ,
-
memperbaiki CTA,
-
menghubungkan ke artikel baru,
-
menghubungkan ke landing page,
-
memperjelas informasi,
-
dan mengukur kembali.
Artinya:
KONTEN LAMA
tidak selalu menjadi:
KONTEN MATI.
Ia bisa menjadi:
ASET YANG TERUS DIPERBARUI.
Hubungan #059 dengan #060
Sekarang perjalanan kita menjadi lebih jelas.
Pada #059, kita belajar:
UKUR HASIL PERBAIKAN.
Kita tidak berhenti setelah melakukan perubahan.
Kita melihat apa yang terjadi.
Pada #060, kita melangkah lebih jauh:
JIKA SUDAH MENEMUKAN POLA YANG BEKERJA, JADIKAN SISTEM.
Jadi alurnya:
PERBAIKI
↓
UKUR
↓
TEMUKAN POLA
↓
DOKUMENTASIKAN
↓
ULANGI
↓
KEMBANGKAN
Inilah cara digital marketing menjadi semakin matang.
Formula Besar Seri Edukasi UMKM Batam
Jika kita rangkum beberapa seri terakhir:
PRIORITASKAN
↓
BUAT
↓
EVALUASI
↓
DIAGNOSIS
↓
PERBAIKI
↓
UKUR
↓
TEMUKAN POLA
↓
JADIKAN SISTEM
↓
ULANGI
↓
KEMBANGKAN
Ini bukan sekadar strategi membuat konten.
Ini adalah cara membangun mesin pemasaran digital sederhana untuk UMKM.
Gratis Landing Page untuk 100 UMKM Batam
Salah satu bagian penting dari sistem tersebut adalah landing page.
Karena artikel dapat membantu calon pelanggan menemukan informasi.
Tetapi landing page membantu mengarahkan mereka menuju langkah berikutnya.
Misalnya:
KONTEN
↓
↓
LANDING PAGE
↓
Karena itu program Gratis Landing Page untuk 100 UMKM Batam bukan hanya tentang mendapatkan sebuah halaman.
Yang lebih penting adalah bagaimana halaman tersebut dapat menjadi bagian dari sistem pemasaran digital UMKM.
Sebagai contoh, lihat penerapan pada landing page Jual Rumput Gajah Mini Batam.
Landing page tersebut dapat menjadi tujuan dari berbagai konten edukasi yang membahas kebutuhan, pilihan, penggunaan, perawatan, dan pertanyaan calon pelanggan.
Dengan begitu:
SATU LANDING PAGE
dapat menjadi pusat dari:
BANYAK KONTEN YANG SALING TERHUBUNG.
Checklist Seri #060
Sebelum mengatakan strategi digital marketing Anda sudah menjadi sistem, periksa:
☐ Apakah kita mengetahui apa yang berhasil?
☐ Apakah kita mencatat perubahan yang dilakukan?
☐ Apakah kita mengetahui alasan perubahan tersebut?
☐ Apakah kita mencatat hasilnya?
☐ Apakah kita menemukan pola?
☐ Apakah pola tersebut bisa diterapkan kembali?
☐ Apakah kita mempunyai template?
☐ Apakah artikel saling terhubung?
☐ Apakah artikel memiliki tujuan yang jelas?
☐ Apakah konten terhubung ke landing page?
☐ Apakah landing page memiliki CTA?
☐ Apakah hasilnya kembali dievaluasi?
Jika sebagian besar jawabannya YA, berarti Anda mulai bergerak dari sekadar membuat konten menuju:
MEMBANGUN SISTEM.
Rumus Seri Edukasi UMKM Batam #060
Simpan rumus ini:
PERBAIKI
↓
UKUR
↓
TEMUKAN POLA
↓
DOKUMENTASIKAN
↓
ULANGI
↓
KEMBANGKAN
Karena sesuatu yang berhasil tidak seharusnya hanya menjadi keberhasilan sesaat.
Jadikan ia pola.
Jadikan ia sistem.
Jadikan ia aset.
Insight Seri Edukasi UMKM Batam #060
Jangan hanya bertanya:
“Konten mana yang berhasil?”
Naikkan pertanyaannya menjadi:
“Mengapa konten itu berhasil?”
Kemudian naikkan lagi:
“Bagaimana cara mengulanginya?”
Dan akhirnya:
“Bagaimana cara menjadikannya sistem?”
Di situlah UMKM mulai berubah.
Bukan lagi:
POSTING → SELESAI.
Tetapi:
BUAT → UKUR → PELAJARI → SISTEMKAN → ULANGI.
Setiap konten memberikan pembelajaran.
Setiap pembelajaran memperbaiki sistem.
Setiap sistem membantu pekerjaan berikutnya menjadi lebih mudah.
Dan semakin banyak proses yang terdokumentasi, semakin sedikit kita bekerja berdasarkan tebakan.
Penutup
Kita tidak membutuhkan konten baru setiap kali merasa bingung.
Kadang kita hanya perlu melihat kembali apa yang sudah pernah dilakukan.
Cari yang berhasil.
Cari alasannya.
Catat polanya.
Kemudian ulangi.
Karena aset digital yang kuat tidak dibangun hanya dengan:
BANYAK KONTEN.
Tetapi dengan:
KONTEN YANG TERHUBUNG + DATA + PEMBELAJARAN + SISTEM.
Maka setelah Seri #059 mengajarkan:
“Ukur apakah perbaikannya benar-benar berhasil.”
Seri #060 membawa kita satu langkah lebih jauh:
“Kalau sudah berhasil, jangan berhenti. Jadikan ia sistem.”
PERBAIKI → UKUR → TEMUKAN POLA → DOKUMENTASIKAN → ULANGI → KEMBANGKAN
Inilah cara UMKM Batam membangun aset digital yang semakin kuat dari waktu ke waktu.
Lanjut ke Seri Edukasi UMKM Batam #061
Setelah memiliki sistem, muncul pertanyaan berikutnya:
“Bagaimana membuat sistem tersebut terus menghasilkan ide dan konten tanpa harus selalu memulai dari nol?”
Pertanyaan itulah yang akan kita lanjutkan pada seri berikutnya.