Dilihat : 38 kali
SERI EDUKASI UMKM BATAM #061
Jangan Memulai Konten dari Nol, Bangun Bank Ide dari Sistem yang Sudah Berjalan
Pada Seri Edukasi UMKM Batam #060, kita membahas bagaimana sebuah keberhasilan tidak seharusnya berhenti sebagai keberhasilan sesaat.
Jika ada sesuatu yang bekerja, jangan hanya mengatakan:
“Ternyata cara ini berhasil.”
Tetapi:
PERBAIKI → UKUR → TEMUKAN POLA → DOKUMENTASIKAN → ULANGI → KEMBANGKAN
Dengan begitu, kita mulai membangun sistem.
Namun setelah memiliki sistem, muncul pertanyaan berikutnya:
“Kalau sistem sudah berjalan, dari mana kita mendapatkan ide konten berikutnya?”
Banyak UMKM kembali mengalami masalah yang sama.
Hari ini punya ide.
Besok bingung.
Lusa mencari inspirasi.
Kemudian melihat konten kompetitor.
Akhirnya membuat konten yang sebenarnya tidak terlalu berkaitan dengan kebutuhan pelanggan.
Padahal kita tidak harus selalu mencari ide baru dari luar.
Sistem yang sudah berjalan sebenarnya bisa menjadi sumber ide yang terus menghasilkan.
Inilah yang kita bahas pada Seri Edukasi UMKM Batam #061.
Jangan Selalu Memulai dari Halaman Kosong
Bayangkan setiap kali ingin membuat konten, Anda membuka laptop dan melihat halaman kosong.
Kemudian bertanya:
“Hari ini mau posting apa?”
Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi masalah jika terjadi setiap hari.
Karena akhirnya pembuatan konten bergantung pada:
-
mood,
-
inspirasi,
-
tren,
-
apa yang sedang ramai,
-
atau apa yang dibuat kompetitor.
Akibatnya strategi mudah berubah.
Padahal bisnis Anda sendiri sudah mempunyai banyak sumber informasi.
Ada pertanyaan pelanggan.
Ada percakapan WhatsApp.
Ada pertanyaan di komentar.
Ada pertanyaan di Facebook.
Ada halaman yang sering dikunjungi.
Ada produk yang sering ditanyakan.
Ada keberatan pelanggan.
Ada masalah yang sering muncul.
Semua itu bisa menjadi:
BANK IDE KONTEN.
Dari Sistem Menjadi Mesin Ide
Pada seri sebelumnya kita membangun sistem:
PERTANYAAN PELANGGAN
↓
KONTEN
↓
INTERNAL LINK
↓
LANDING PAGE
↓
Kemudian dari WhatsApp muncul pertanyaan baru.
Pertanyaan baru tersebut jangan dibiarkan hilang.
Masukkan kembali ke sistem:
PERTANYAAN BARU
↓
IDE KONTEN BARU
↓
KONTEN
↓
INTERNAL LINK
↓
LANDING PAGE
↓
Inilah yang membuat sistem menjadi semakin kuat.
Bukan karena kita terus mencari ide.
Tetapi karena:
PELANGGAN SENDIRI TERUS MEMBERIKAN IDE.
Pertanyaan Pelanggan Adalah Bahan Bakar Konten
Salah satu sumber ide paling berharga sebenarnya sangat dekat dengan UMKM:
pelanggan.
Contohnya pelanggan bertanya:
“Apakah produk ini tersedia di Batam?”
Itu bisa menjadi konten.
Pelanggan bertanya:
“Bagaimana cara memilih produk yang sesuai?”
Itu bisa menjadi konten.
Pelanggan bertanya:
“Berapa lama prosesnya?”
Itu bisa menjadi konten.
Pelanggan bertanya:
“Apakah bisa dikirim?”
Itu bisa menjadi konten.
Pelanggan bertanya:
“Bagaimana cara pesan?”
Itu bisa menjadi konten.
Daripada menjawab pertanyaan yang sama berulang kali, kita bisa menjadikan sebagian pertanyaan tersebut sebagai aset informasi.
Sekali dibuat.
Kemudian dapat membantu pelanggan berikutnya.
Jangan Semua Pertanyaan Langsung Dijadikan Artikel
Namun bukan berarti semua pertanyaan harus menjadi artikel panjang.
Ini penting.
Kita sudah belajar pada seri sebelumnya bahwa format konten harus disesuaikan dengan tujuan.
Sebuah pertanyaan mungkin lebih cocok menjadi:
-
artikel,
-
FAQ,
-
posting Facebook,
-
video pendek,
-
carousel,
-
infografis,
-
atau langsung dijawab melalui WhatsApp.
Jadi prosesnya bukan:
PERTANYAAN → ARTIKEL
Tetapi:
PERTANYAAN → TUJUAN → FORMAT → KONTEN
Dengan cara ini, bank ide tidak membuat kita semakin sibuk.
Justru membantu kita memilih pekerjaan yang paling tepat.
Buat “Bank Ide”, Bukan Sekadar Daftar Ide
Ada perbedaan antara:
DAFTAR IDE
dan
BANK IDE.
Daftar ide hanya berisi judul.
Misalnya:
-
Cara merawat rumput.
-
Tips memilih rumput.
-
Harga rumput.
-
Rumput untuk taman.
-
Rumput untuk rumah.
Sementara bank ide mempunyai informasi lebih lengkap.
Contohnya:
| Pertanyaan | Tujuan | Format | Prioritas | Landing Page |
|---|---|---|---|---|
| Apa itu rumput gajah mini? | Edukasi | Artikel | Tinggi | Jual Rumput Gajah Mini |
| Cocok untuk taman rumah? | Membantu keputusan | Artikel | Tinggi | Jual Rumput Gajah Mini |
| Bagaimana cara merawat? | Edukasi | Artikel | Sedang | Jual Rumput Gajah Mini |
| Bagaimana cara pesan? | Transaksi | FAQ/LP | Tinggi | Jual Rumput Gajah Mini |
Sekarang kita tidak hanya mempunyai ide.
Kita mempunyai:
DATA IDE.
Dan data tersebut dapat membantu menentukan apa yang harus dibuat terlebih dahulu.
Dari Satu Produk Bisa Lahir Banyak Konten
Misalnya sebuah UMKM mempunyai produk atau jasa:
Jual Rumput Gajah Mini Batam.
Jangan hanya membuat satu halaman:
Jual Rumput Gajah Mini Batam.
Kemudian berhenti.
Tanyakan:
“Apa saja yang biasanya ingin diketahui calon pelanggan?”
Dari sana dapat muncul:
Apa itu rumput gajah mini?
↓
Konten edukasi.
Apakah cocok untuk taman rumah?
↓
Konten pertimbangan.
Bagaimana cara menanamnya?
↓
Konten panduan.
Bagaimana cara merawatnya?
↓
Konten perawatan.
Apa yang harus diperhatikan sebelum membeli?
↓
Konten keputusan.
Bagaimana cara mendapatkannya?
↓
Landing page.
Sekarang satu produk mempunyai beberapa pintu masuk informasi.
Inilah yang Disebut Content Ecosystem
Kita tidak lagi membuat:
ARTIKEL 1
ARTIKEL 2
ARTIKEL 3
secara terpisah.
Kita mulai membangun:
SATU TOPIK UTAMA
↓
BANYAK PERTANYAAN
↓
BANYAK KONTEN
↓
SALING TERHUBUNG
↓
LANDING PAGE
↓
Dengan demikian, konten mempunyai hubungan.
Artikel bukan berdiri sendiri.
Landing page bukan berdiri sendiri.
CTA bukan berdiri sendiri.
Semuanya menjadi bagian dari satu perjalanan.
Konten Lama Juga Bisa Menghasilkan Ide Baru
Ini salah satu bagian paling menarik dari sistem.
Kita tidak harus selalu melihat konten baru.
Lihat juga konten lama.
Misalnya sebuah artikel sudah mendapatkan beberapa pertanyaan.
Jangan menganggap pertanyaan tersebut sebagai gangguan.
Pertanyaan tersebut bisa menjadi:
IDE KONTEN BERIKUTNYA.
Contohnya:
Artikel menjelaskan:
Cara memilih rumput untuk taman.
Kemudian pelanggan bertanya:
“Kalau untuk halaman rumah yang sering terkena panas bagaimana?”
Pertanyaan itu menjadi ide baru.
Kemudian muncul pertanyaan:
“Kalau sering hujan bagaimana?”
Menjadi ide berikutnya.
Kemudian:
“Kalau tanahnya kurang bagus?”
Menjadi ide berikutnya.
Akhirnya satu artikel berkembang menjadi sebuah kelompok konten.
KONTEN → PERTANYAAN → KONTEN BARU → PERTANYAAN BARU
Inilah mesin ide yang sebenarnya.
WhatsApp Bukan Hanya Tempat Transaksi
Bagi banyak UMKM, WhatsApp hanya digunakan untuk:
TANYA → JAWAB → ORDER.
Padahal percakapan WhatsApp dapat memberikan informasi yang sangat berharga.
Perhatikan pertanyaan yang sering muncul.
Misalnya:
“Ada ukuran lain?”
“Bisa untuk area sekian?”
“Bagaimana cara pemasangannya?”
“Berapa kebutuhan untuk area tertentu?”
“Apakah bisa dikirim?”
Pertanyaan tersebut menunjukkan:
APA YANG BELUM DIPAHAMI PELANGGAN.
Dan sesuatu yang belum dipahami pelanggan dapat menjadi:
IDE KONTEN.
Dengan begitu WhatsApp bukan hanya saluran transaksi.
WhatsApp juga menjadi:
SUMBER INSIGHT KONTEN.
Buat Siklus yang Tidak Putus
Sekarang kita dapat membangun siklus:
PELANGGAN BERTANYA
↓
CATAT PERTANYAAN
↓
PILIH YANG PENTING
↓
TENTUKAN FORMAT
↓
BUAT KONTEN
↓
HUBUNGKAN
↓
ARAHKAN KE LANDING PAGE
↓
PELANGGAN BERTANYA LAGI
↓
CATAT LAGI
Siklus tersebut terus berjalan.
Artinya kita tidak lagi bergantung sepenuhnya pada:
“Hari ini harus mencari ide.”
Karena ide sudah muncul dari aktivitas bisnis sehari-hari.
Jangan Menunggu Konten Sepi Baru Mencari Ide
Ada kebiasaan yang sebaiknya mulai ditinggalkan.
Ketika konten sudah habis, baru mencari ide.
Lebih baik:
KUMPULKAN IDE SETIAP HARI.
Tidak perlu langsung dibuat.
Cukup dicatat.
Misalnya setiap kali ada pertanyaan menarik dari pelanggan:
CATAT.
Ada komentar penting:
CATAT.
Ada pertanyaan di grup:
CATAT.
Ada pertanyaan yang berulang:
CATAT.
Kemudian satu atau dua kali seminggu:
PILIH.
Dari sini proses pembuatan konten menjadi lebih terencana.
Buat Sistem “Tangkap Ide”
UMKM dapat menggunakan cara yang sangat sederhana.
Buat satu tempat khusus:
BANK IDE UMKM.
Bisa berupa:
-
spreadsheet,
-
Google Sheets,
-
catatan HP,
-
Notion,
-
atau aplikasi catatan sederhana.
Yang penting bukan aplikasinya.
Yang penting:
IDE TIDAK HILANG.
Gunakan kolom sederhana:
Tanggal
Pertanyaan
Sumber
Topik
Format
Prioritas
Landing Page
Status
Dengan begitu, setiap pertanyaan dapat masuk ke sistem.
Hubungkan Bank Ide dengan Landing Page
Bank ide akan menjadi jauh lebih kuat jika setiap ide mempunyai tujuan.
Misalnya:
Pertanyaan:
“Apakah rumput gajah mini cocok untuk taman rumah?”
Format:
Artikel.
Tujuan:
Membantu calon pelanggan mengambil keputusan.
Landing Page:
Jual Rumput Gajah Mini Batam.
CTA:
Lihat informasi produk atau konsultasikan kebutuhan.
Sekarang kita tahu:
MENGAPA KONTEN INI DIBUAT.
Ini jauh lebih baik daripada:
“Saya butuh artikel untuk posting hari ini.”
Konten Harus Mempunyai Tujuan
Sebelum membuat konten dari bank ide, tanyakan:
Konten ini dibuat untuk apa?
Apakah:
MENDATANGKAN PERHATIAN?
MENJAWAB PERTANYAAN?
MEMBANTU KEPUTUSAN?
MEMBANGUN KEPERCAYAAN?
MENGARAHKAN KE LANDING PAGE?
MENDORONG PERCAKAPAN?
Tujuan tersebut menentukan bentuk kontennya.
Dengan demikian, bank ide bukan sekadar gudang judul.
Tetapi menjadi:
GUDANG PELUANG.
Hubungan Seri #060 dengan #061
Pada Seri #060 kita belajar:
Jika sesuatu berhasil, jangan berhenti. Jadikan sistem.
Sekarang pada #061 kita melanjutkan:
Jika sistem sudah berjalan, jadikan aktivitas pelanggan sebagai sumber ide.
Alurnya menjadi:
HASIL
↓
POLA
↓
SISTEM
↓
PERTANYAAN PELANGGAN
↓
IDE
↓
KONTEN
↓
LANDING PAGE
↓
↓
PERTANYAAN BARU
↓
IDE BARU
Sekarang sistem mulai menghasilkan bahan untuk dirinya sendiri.
Jangan Kejar Ide. Bangun Sistem Penangkap Ide.
Ini mungkin perubahan cara berpikir yang paling penting dari seri ini.
Jangan setiap hari bertanya:
“Apa ide konten saya hari ini?”
Ubahlah menjadi:
“Pertanyaan apa yang muncul dari pelanggan saya hari ini?”
Pertanyaan kedua jauh lebih dekat dengan bisnis.
Karena pelanggan tidak bertanya tanpa alasan.
Ada kebutuhan di balik pertanyaan.
Ada keraguan.
Ada masalah.
Ada keinginan.
Ada hambatan untuk membeli.
Dan semua itu adalah informasi berharga untuk konten.
Dari Pertanyaan Menjadi Aset Digital
Bayangkan seorang pelanggan bertanya:
“Bagaimana cara mendapatkan jasa ini di Batam?”
Hari ini Anda jawab di WhatsApp.
Besok pertanyaan yang sama muncul lagi.
Anda jawab lagi.
Minggu depan muncul lagi.
Anda jawab lagi.
Mengapa tidak membuat satu konten yang menjelaskan jawabannya?
Kemudian:
PERTANYAAN
menjadi
KONTEN.
Konten tersebut kemudian terhubung ke:
LANDING PAGE.
Landing page terhubung ke:
WHATSAPP.
Sekarang jawaban tersebut tidak hanya berguna untuk satu pelanggan.
Ia bisa membantu pelanggan berikutnya.
Inilah cara percakapan berubah menjadi:
ASET DIGITAL.
Contoh: Terima Motor Rusak Batam
Konsep ini juga dapat diterapkan pada layanan seperti Terima Motor Rusak Batam.
Calon pelanggan mungkin memiliki pertanyaan:
-
Motor rusak seperti apa yang dapat diterima?
-
Bagaimana prosesnya?
-
Apakah motor mati bisa ditanyakan?
-
Bagaimana jika motor bekas tabrakan?
-
Apa informasi yang perlu disampaikan?
-
Bagaimana cara menghubungi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi sumber konten edukasi.
Kemudian konten dapat mengarahkan calon pelanggan ke landing page Terima Motor Rusak Batam untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan menuju langkah komunikasi berikutnya.
Dengan demikian:
PERTANYAAN PELANGGAN
tidak berhenti di WhatsApp.
Ia dapat berkembang menjadi:
KONTEN → GOOGLE → LANDING PAGE → WHATSAPP
Inilah salah satu bentuk sederhana bagaimana UMKM membangun sistem pemasaran digital.
Gratis Landing Page untuk 100 UMKM Batam
Di sinilah landing page menjadi bagian penting.
Konten dapat membantu menjawab pertanyaan.
Google dapat membantu calon pelanggan menemukan informasi.
Tetapi landing page dapat menjadi tempat untuk menyatukan informasi dan memberikan langkah berikutnya.
Karena itu, program:
GRATIS LANDING PAGE UNTUK 100 UMKM BATAM
dapat menjadi salah satu langkah awal untuk mulai membangun aset digital.
Contoh penerapannya dapat dilihat pada Terima Motor Rusak Batam, yang dapat dijadikan tujuan dari berbagai konten edukasi seputar motor rusak, motor mati, motor bekas tabrakan, dan kebutuhan terkait lainnya.
Tujuannya bukan sekadar mempunyai satu halaman.
Tetapi membangun:
KONTEN
↓
↓
LANDING PAGE
↓
yang kemudian menghasilkan:
PERTANYAAN BARU
dan kembali menjadi:
KONTEN BARU.
Buat Bank Ide yang Hidup
Bank ide jangan hanya diisi satu kali.
Ia harus terus bertambah.
Setiap hari bisa muncul:
Pertanyaan baru.
Masalah baru.
Keberatan baru.
Kebutuhan baru.
Topik baru.
Tetapi bukan berarti semuanya harus langsung dibuat.
Gunakan proses:
TANGKAP
↓
PILIH
↓
PRIORITASKAN
↓
BUAT
↓
HUBUNGKAN
↓
UKUR
↓
PELAJARI
↓
MASUKKAN INSIGHT BARU
Dengan cara ini, bank ide terus berkembang sekaligus terus disaring.
Checklist Seri Edukasi UMKM Batam #061
Coba periksa bisnis Anda:
☐ Apakah setiap pertanyaan pelanggan dicatat?
☐ Apakah Anda mempunyai satu tempat untuk menyimpan ide?
☐ Apakah Anda mengetahui sumber setiap ide?
☐ Apakah Anda membedakan pertanyaan yang penting dan tidak penting?
☐ Apakah setiap ide mempunyai tujuan?
☐ Apakah Anda menentukan format yang tepat?
☐ Apakah konten mempunyai internal link?
☐ Apakah konten terhubung ke landing page?
☐ Apakah landing page memiliki CTA?
☐ Apakah pertanyaan baru dimasukkan kembali ke bank ide?
Jika jawabannya belum semuanya YA, tidak masalah.
Mulai dari satu langkah:
JANGAN BIARKAN PERTANYAAN PELANGGAN HILANG.
Rumus Seri Edukasi UMKM Batam #061
Simpan rumus ini:
TANGKAP
↓
PILIH
↓
PRIORITASKAN
↓
BUAT
↓
HUBUNGKAN
↓
ARAHKAN
↓
UKUR
↓
PELAJARI
↓
TANGKAP LAGI
Atau dalam bentuk yang lebih sederhana:
PERTANYAAN → IDE → KONTEN → LANDING PAGE → WHATSAPP → PERTANYAAN BARU
Inilah mesin ide konten yang dibangun dari aktivitas bisnis sendiri.
Insight Seri Edukasi UMKM Batam #061
Jangan selalu mencari ide di luar bisnis Anda.
Kadang ide terbaik justru ada di dalam:
CHAT PELANGGAN.
KOMENTAR.
PERTANYAAN.
KEBERATAN.
PERMINTAAN.
MASALAH.
Semua itu adalah suara pelanggan.
Dan suara pelanggan adalah bahan penting untuk membangun konten yang relevan.
Karena itu:
Jangan kejar ide.
Tangkap pertanyaan.
Jangan menunggu inspirasi.
Bangun sistem penangkap ide.
Jangan mulai dari nol.
Mulai dari apa yang sudah terjadi.
Penutup
Pada Seri #060 kita belajar:
KEBERHASILAN → POLA → SISTEM.
Pada Seri #061 kita melangkah lebih jauh:
SISTEM → PERTANYAAN → IDE → KONTEN.
Kemudian konten tersebut kembali masuk ke sistem:
KONTEN → GOOGLE → LANDING PAGE → WHATSAPP → PERTANYAAN BARU.
Maka kita tidak lagi membuat konten secara acak.
Kita membangun sebuah siklus.
PERTANYAAN → KONTEN → HUBUNGKAN → ARAHKAN → UKUR → PELAJARI → PERTANYAAN BARU
Dan selama pelanggan masih mempunyai pertanyaan, sistem tersebut masih mempunyai bahan untuk berkembang.
Itulah mengapa UMKM tidak harus selalu memulai dari halaman kosong.
Mulailah dari pelanggan.
Karena di sanalah ide konten sebenarnya sudah tersedia.
Lanjut ke Seri Edukasi UMKM Batam #062
Setelah memiliki bank ide yang terus menghasilkan bahan konten, muncul pertanyaan berikutnya:
“Bagaimana memilih ide mana yang harus dibuat lebih dulu agar bank ide tidak berubah menjadi tumpukan pekerjaan?”
Pertanyaan itulah yang akan kita lanjutkan pada Seri Edukasi UMKM Batam #062.