Dilihat : 40 kali
SERI EDUKASI UMKM BATAM #063
Jangan Biarkan Satu Ide Berhenti Menjadi Satu Konten, Kembangkan Menjadi Satu Sistem
Pada Seri Edukasi UMKM Batam #062, kita belajar bahwa memiliki banyak ide bukan berarti semua ide harus langsung dibuat.
Justru kita perlu memilih.
Mana yang paling penting?
Mana yang paling sering ditanyakan?
Mana yang paling relevan?
Mana yang paling membantu pelanggan mengambil keputusan?
Kita kemudian menggunakan prinsip:
PENTING + SERING + RELEVAN + MENGHAMBAT KEPUTUSAN
Dari sana, kita mulai mempunyai prioritas.
Tetapi setelah menemukan satu ide yang benar-benar penting, muncul pertanyaan berikutnya:
“Apakah satu ide tersebut hanya perlu dibuat menjadi satu konten?”
Jawabannya:
Tidak selalu.
Satu ide yang penting justru bisa dikembangkan menjadi beberapa bentuk konten yang mempunyai fungsi berbeda.
Bukan dengan mengulang tulisan yang sama.
Tetapi dengan:
SATU IDE → BEBERAPA SUDUT PANDANG → BEBERAPA FORMAT → SATU SISTEM YANG TERHUBUNG.
Inilah yang kita bahas pada Seri Edukasi UMKM Batam #063.
Jangan Hanya Berpikir “Satu Ide = Satu Artikel”
Bayangkan Anda menemukan satu pertanyaan pelanggan:
“Bagaimana cara membuat NIB untuk usaha?”
Kemudian Anda membuat satu artikel:
Cara Membuat NIB untuk UMKM.
Artikel selesai.
Lalu Anda mencari ide baru.
Padahal pertanyaan tersebut masih mempunyai banyak sisi.
Calon pelanggan mungkin juga ingin mengetahui:
-
Apa itu NIB?
-
Mengapa UMKM membutuhkan NIB?
-
Apa yang perlu disiapkan?
-
Bagaimana prosesnya?
-
Apakah bisa dilakukan secara online?
-
Apa yang harus dilakukan jika mengalami kesulitan?
-
Bagaimana cara mendapatkan bantuan?
-
Apa langkah setelah NIB selesai?
Artinya satu ide awal sebenarnya memiliki banyak pertanyaan turunan.
Kalau kita langsung berpikir:
“Saya sudah membuat artikelnya.”
Kita mungkin melewatkan banyak peluang.
Satu Ide Bisa Memiliki Banyak Pintu Masuk
Calon pelanggan tidak selalu mencari informasi dengan kalimat yang sama.
Orang pertama mungkin mencari:
“Cara membuat NIB.”
Orang kedua:
“Syarat NIB UMKM.”
Orang ketiga:
“Cara daftar NIB online.”
Orang keempat:
“NIB untuk usaha kecil.”
Orang kelima:
“Bantuan membuat NIB Batam.”
Topiknya masih berhubungan.
Tetapi pertanyaan dan kebutuhan mereka berbeda.
Maka satu topik utama dapat dikembangkan menjadi beberapa konten yang menjawab kebutuhan berbeda.
Jangan Menggandakan Konten, Kembangkan Sudut Pandangnya
Ini bagian penting.
Mengembangkan satu ide bukan berarti:
Artikel A
kemudian disalin menjadi:
Artikel B
lalu:
Artikel C
Itu justru dapat membuat konten menjadi berulang.
Yang kita lakukan adalah mencari:
SUDUT PANDANG BERBEDA.
Misalnya topik:
NIB untuk UMKM.
Bisa dikembangkan menjadi:
Konten Edukasi
Apa Itu NIB dan Mengapa UMKM Perlu Memahaminya?
Tujuannya:
Membantu orang yang masih berada pada tahap mengenal.
Konten Persiapan
Apa Saja yang Perlu Disiapkan Sebelum Membuat NIB?
Tujuannya:
Membantu orang yang sudah tertarik tetapi belum siap.
Konten Proses
Bagaimana Alur Pembuatan NIB untuk UMKM?
Tujuannya:
Mengurangi ketidakpastian.
Konten Keputusan
Kapan UMKM Sebaiknya Mengurus NIB?
Tujuannya:
Membantu calon pelanggan menentukan langkah.
Konten Layanan
Bagaimana Mendapatkan Bantuan Pembuatan NIB di Batam?
Tujuannya:
Mengarahkan calon pelanggan menuju langkah berikutnya.
Sekarang kita mempunyai beberapa konten.
Tetapi semuanya berasal dari:
SATU TOPIK UTAMA.
Inilah Bedanya “Banyak Konten” dengan “Satu Sistem Konten”
Banyak konten belum tentu menjadi sistem.
Misalnya:
Artikel A
tidak berhubungan dengan:
Artikel B
Artikel B tidak berhubungan dengan:
Artikel C
Kemudian tidak ada landing page.
Tidak ada CTA.
Tidak ada jalur berikutnya.
Itu hanya:
KUMPULAN KONTEN.
Sementara sistem konten mempunyai hubungan:
TOPIK UTAMA
↓
PERTANYAAN TURUNAN
↓
KONTEN PENDUKUNG
↓
INTERNAL LINK
↓
LANDING PAGE
↓
CTA
↓
Sekarang konten mempunyai tujuan.
Jangan Membuat Semua dari Nol
Inilah manfaat terbesar dari pendekatan ini.
Ketika satu topik sudah dipilih, kita tidak perlu selalu memulai dari halaman kosong.
Kita sudah mempunyai:
TOPIK UTAMA.
Kemudian cari:
PERTANYAAN TURUNAN.
Kemudian tentukan:
FORMAT.
Kemudian buat:
KONTEN.
Kemudian:
HUBUNGKAN.
Prosesnya menjadi lebih cepat karena sebagian pekerjaan berpikir sudah dilakukan sebelumnya.
Gunakan “Peta Konten”
Salah satu cara sederhana adalah membuat peta.
Misalnya:
TOPIK UTAMA
NIB UMKM
↓
Apa itu NIB?
↓
Cara membuat NIB
↓
Syarat NIB
↓
Proses NIB
↓
Kesalahan saat membuat NIB
↓
Bantuan pembuatan NIB
↓
Landing Page
Sekarang kita dapat melihat hubungan antaride.
Kita tidak lagi mempunyai daftar judul acak.
Kita mempunyai:
PETA INFORMASI.
Satu Topik Bisa Menjawab Tahapan Pelanggan yang Berbeda
Ini juga penting.
Tidak semua calon pelanggan berada pada tahap yang sama.
Ada yang baru mengenal.
Ada yang sedang mencari informasi.
Ada yang membandingkan pilihan.
Ada yang sudah siap bertindak.
Maka konten dapat dibuat untuk tahap yang berbeda.
Tahap 1 — BELUM TAHU
Konten:
Apa itu NIB?
Tahap 2 — MULAI TERTARIK
Konten:
Mengapa UMKM perlu memahami NIB?
Tahap 3 — INGIN MEMPERSIAPKAN
Konten:
Apa yang perlu disiapkan?
Tahap 4 — INGIN MELAKUKAN
Konten:
Bagaimana prosesnya?
Tahap 5 — BUTUH BANTUAN
Konten:
Bagaimana mendapatkan bantuan pembuatan NIB?
Kemudian diarahkan ke:
LANDING PAGE → WHATSAPP
Sekarang konten tidak hanya banyak.
Konten mengikuti perjalanan pelanggan.
Jangan Semua Konten Memiliki CTA yang Sama
Karena tujuan setiap konten berbeda.
Konten edukasi awal mungkin CTA-nya:
“Pelajari informasi berikutnya.”
Konten panduan:
“Lihat langkah selengkapnya.”
Konten keputusan:
“Pelajari pilihan yang tersedia.”
Konten layanan:
“Konsultasikan kebutuhan Anda.”
Jadi:
FORMAT → TUJUAN → CTA
harus saling berhubungan.
Internal Link Bukan Sekadar Menambah Link
Ketika beberapa konten berasal dari satu topik, internal link menjadi semakin penting.
Misalnya:
Artikel Apa Itu NIB
mengarah ke:
Cara Membuat NIB
Kemudian:
Cara Membuat NIB
mengarah ke:
Persiapan NIB
Kemudian:
Persiapan NIB
mengarah ke:
Jasa Pembuatan NIB Batam
Sekarang pembaca tidak berhenti pada satu artikel.
Mereka dapat melanjutkan perjalanan.
BACA → PAHAMI → LANJUTKAN → PERTIMBANGKAN → HUBUNGI
Inilah yang membuat kumpulan konten berubah menjadi sistem.
Jangan Membuat Konten Hanya untuk Memenuhi Jadwal
Ini sering terjadi.
Senin harus posting.
Selasa harus posting.
Rabu harus posting.
Akhirnya kita mencari apa saja yang bisa dibuat.
Padahal lebih baik:
SATU TOPIK PENTING
kemudian dikembangkan dengan baik.
Daripada:
LIMA TOPIK ACAK
yang tidak mempunyai hubungan.
Karena tujuan konten bukan sekadar:
MENGISI KALENDER.
Tujuannya:
MEMBANTU PELANGGAN DAN MEMBANGUN ASET DIGITAL.
Gunakan Rumus “1 → 5”
Untuk memudahkan, kita bisa menggunakan rumus sederhana:
1 IDE UTAMA
↓
5 PERTANYAAN TURUNAN
↓
5 KONTEN
↓
INTERNAL LINK
↓
1 LANDING PAGE
Tetapi angka lima bukan aturan wajib.
Bisa:
1 → 3
atau:
1 → 7
atau:
1 → 10
tergantung banyaknya pertanyaan nyata dari pelanggan.
Yang penting:
JANGAN MEMBUAT KONTEN HANYA KARENA ANGKANYA.
Buat karena ada kebutuhan.
Contoh Sederhana: Jasa Pembuatan NIB Batam
Misalnya topik utamanya:
Kita dapat memetakan beberapa pertanyaan:
Apa itu NIB?
→ Konten edukasi.
Apakah UMKM perlu NIB?
→ Konten penjelasan.
Apa yang perlu disiapkan?
→ Konten persiapan.
Bagaimana proses pembuatannya?
→ Konten panduan.
Bagaimana mendapatkan bantuan?
→ Konten layanan.
Kemudian semua konten yang relevan dapat diarahkan menuju landing page:
Jasa Pembuatan NIB Batam.
Dengan begitu satu layanan tidak hanya mempunyai:
SATU HALAMAN.
Tetapi mempunyai:
EKOSISTEM INFORMASI.
Landing Page Menjadi Pusat Konversi
Konten mempunyai fungsi menjawab pertanyaan.
Tetapi ketika calon pelanggan sudah membutuhkan informasi layanan, landing page dapat menjadi tempat untuk menyatukan informasi.
Misalnya:
ARTIKEL
↓
INFORMASI LAYANAN
↓
MANFAAT
↓
PROSES
↓
FAQ
↓
CTA
↓
Inilah alasan landing page sebaiknya tidak berdiri sendiri.
Ia perlu mendapatkan aliran dari konten.
Satu Landing Page Bisa Didukung Banyak Konten
Bayangkan Anda mempunyai landing page:
Jasa Pembuatan NIB Batam.
Landing page tersebut bisa mendapatkan pengunjung dari:
Artikel 1
→ Apa itu NIB?
Artikel 2
→ Mengapa UMKM perlu NIB?
Artikel 3
→ Persiapan membuat NIB.
Artikel 4
→ Proses pembuatan NIB.
Artikel 5
→ Kesalahan yang perlu diperhatikan.
Sekarang landing page mempunyai banyak jalan masuk.
Tetapi semua jalan tersebut masih berada dalam:
SATU TOPIK.
Jangan Takut Konten Saling Berhubungan
Kadang UMKM khawatir:
“Kalau topiknya mirip, nanti kontennya sama.”
Yang perlu dihindari bukan kemiripan topik.
Yang perlu dihindari adalah:
INFORMASI YANG SAMA TANPA NILAI TAMBAHAN.
Jika setiap konten menjawab pertanyaan berbeda, maka hubungan tersebut justru membantu.
Contohnya:
Apa itu NIB?
berbeda dengan:
Bagaimana membuat NIB?
dan berbeda dengan:
Apa yang harus disiapkan?
Topiknya sama.
Pertanyaannya berbeda.
Kebutuhannya berbeda.
Dari Satu Ide Menjadi Content Cluster
Ketika satu topik mulai mempunyai beberapa konten yang saling terhubung, kita mulai membentuk:
CONTENT CLUSTER.
Struktur sederhananya:
PILLAR TOPIC
↓
SUBTOPIC 1
↓
SUBTOPIC 2
↓
SUBTOPIC 3
↓
SUBTOPIC 4
↓
SUBTOPIC 5
Kemudian semuanya saling terhubung.
Di pusatnya dapat terdapat:
LANDING PAGE
atau halaman utama topik.
Dengan pendekatan ini, website mulai memiliki struktur informasi yang lebih jelas.
Jangan Membuat Cluster Tanpa Prioritas
Kita harus tetap mengingat pelajaran dari #062.
Tidak semua subtopik harus dibuat sekarang.
Kita tetap memilih:
PRIORITAS TINGGI
PRIORITAS SEDANG
PRIORITAS RENDAH
Misalnya:
Prioritas Tinggi
Pertanyaan yang sering muncul dan menghambat keputusan.
Prioritas Sedang
Pertanyaan yang membantu pemahaman.
Prioritas Rendah
Konten tambahan yang belum mendesak.
Jadi #063 bukan berarti:
BUAT SEMUA.
Tetapi:
KEMBANGKAN IDE PRIORITAS SECARA CERDAS.
Satu Konten Bisa Melahirkan Konten Berikutnya
Setelah artikel pertama selesai, jangan langsung menutup proses.
Lihat pertanyaan yang masih belum terjawab.
Misalnya artikel:
Cara Membuat NIB.
Kemudian kita menyadari pembaca mungkin masih bertanya:
“Apa saja dokumen yang perlu disiapkan?”
Pertanyaan itu menjadi artikel berikutnya.
Kemudian muncul:
“Bagaimana kalau mengalami kesulitan?”
Menjadi artikel berikutnya.
Kemudian:
“Bagaimana mendapatkan bantuan?”
Menjadi landing page atau konten layanan.
Dengan demikian:
KONTEN → PERTANYAAN BARU → KONTEN BARU
Siklus terus berjalan.
Jangan Mengulang Pekerjaan, Gunakan Aset yang Sudah Ada
Ini prinsip penting.
Jika informasi sudah dijelaskan dengan baik pada sebuah artikel, tidak perlu selalu menulis ulang semuanya.
Kita bisa:
LINK.
Jika penjelasan lengkap sudah tersedia, arahkan pembaca ke sana.
Dengan begitu satu konten membantu konten lainnya.
Hasilnya:
LEBIH SEDIKIT PENGULANGAN
dan:
LEBIH BANYAK HUBUNGAN.
Satu Ide Juga Bisa Memiliki Banyak Format
Selain artikel, satu ide dapat dikembangkan menjadi:
Facebook post
Carousel
Video pendek
FAQ
Infografis
Story
Tetapi lagi-lagi:
jangan membuat semuanya hanya karena bisa.
Pilih format berdasarkan:
SIAPA YANG DITUJU
dan:
APA TUJUANNYA.
Misalnya pertanyaan sederhana cocok menjadi FAQ.
Penjelasan kompleks cocok menjadi artikel.
Proses visual cocok menjadi video.
Ringkasan cocok menjadi carousel.
Dengan demikian satu ide dapat digunakan lebih dari sekali tanpa menjadi konten yang sama persis.
Dari “Satu Ide” Menjadi “Satu Aset Konten”
Cara berpikirnya perlu diubah.
Jangan menganggap:
“Saya harus membuat satu artikel.”
Tetapi:
“Saya sedang membangun satu aset informasi.”
Aset tersebut dapat mempunyai:
-
artikel utama,
-
artikel pendukung,
-
FAQ,
-
posting,
-
video,
-
internal link,
-
landing page,
-
CTA.
Sekarang kita tidak lagi sekadar memproduksi konten.
Kita membangun:
EKOSISTEM KONTEN.
Hubungan #062 dengan #063
Pada Seri #062, kita belajar:
IDE → PRIORITAS → KONTEN YANG TEPAT.
Kita belajar memilih apa yang harus dibuat lebih dahulu.
Sekarang pada #063, kita belajar:
KONTEN PRIORITAS → KONTEN TURUNAN → INTERNAL LINK → LANDING PAGE.
Jadi kita tidak berhenti setelah satu konten selesai.
Kita bertanya:
“Apa lagi yang perlu dijelaskan dari topik ini?”
Kemudian:
“Konten mana yang dapat membantu menjelaskan bagian tersebut?”
Kemudian:
“Bagaimana semuanya saling terhubung?”
Inilah yang membuat satu ide menjadi sistem.
Formula Seri Edukasi UMKM Batam #063
Simpan rumus ini:
1 IDE PRIORITAS
↓
PERTANYAAN TURUNAN
↓
PILIH FORMAT
↓
BUAT KONTEN
↓
HUBUNGKAN
↓
ARAHKAN KE LANDING PAGE
↓
UKUR
↓
TEMUKAN PERTANYAAN BARU
↓
KEMBANGKAN LAGI
Atau lebih singkat:
SATU IDE → BANYAK SUDUT PANDANG → SATU SISTEM
Checklist Seri #063
Sebelum membuat konten baru, tanyakan:
☐ Apa ide utama yang sedang saya kembangkan?
☐ Mengapa ide ini menjadi prioritas?
☐ Apa saja pertanyaan turunannya?
☐ Pertanyaan mana yang paling penting?
☐ Apakah setiap konten mempunyai tujuan berbeda?
☐ Apakah kontennya memberikan informasi baru?
☐ Apakah ada internal link yang relevan?
☐ Apakah ada landing page yang sesuai?
☐ Apakah CTA sesuai dengan tahap pelanggan?
☐ Apakah konten baru memperkuat konten sebelumnya?
☐ Apakah ada pertanyaan baru setelah konten dibuat?
Jika jawabannya YA, Anda bukan sekadar membuat beberapa konten.
Anda sedang membangun:
CONTENT SYSTEM.
Gratis Landing Page untuk 100 UMKM Batam
Sistem konten akan lebih kuat ketika setiap konten mempunyai tempat tujuan yang jelas.
Salah satunya adalah landing page.
Untuk layanan seperti Jasa Pembuatan NIB Batam, calon pelanggan mungkin datang dari berbagai pertanyaan.
Ada yang ingin memahami NIB.
Ada yang ingin mengetahui proses.
Ada yang ingin mengetahui persiapan.
Ada yang sudah siap meminta bantuan.
Semua tahap tersebut dapat dibantu melalui konten yang saling terhubung dan kemudian diarahkan ke landing page yang relevan.
Karena itu program:
GRATIS LANDING PAGE UNTUK 100 UMKM BATAM
bukan hanya tentang membuat sebuah halaman.
Tujuannya adalah membantu UMKM mulai mempunyai:
KONTEN → GOOGLE → LANDING PAGE → WHATSAPP
sebagai salah satu jalur pemasaran digital.
Contoh penerapannya dapat dilihat pada Jasa Pembuatan NIB Batam.
Jangan Membuat Lebih Banyak. Kembangkan Lebih Dalam.
Ini mungkin inti dari Seri #063.
Ketika menemukan satu topik yang penting, jangan buru-buru meninggalkannya hanya karena satu artikel sudah selesai.
Tanyakan:
Apa yang belum dijawab?
Apa yang masih membuat pelanggan ragu?
Apa informasi berikutnya yang dibutuhkan?
Apa konten yang dapat membantu?
Dengan begitu kita tidak selalu bergerak:
KE SAMPING
dari satu topik ke topik lainnya.
Kita juga bisa bergerak:
KE DALAM
dari satu topik menuju pemahaman yang lebih lengkap.
Insight Seri Edukasi UMKM Batam #063
Jangan berpikir:
“Saya sudah punya satu artikel tentang topik ini.”
Berpikirlah:
“Saya baru mempunyai satu bagian dari sistem informasi.”
Karena satu pertanyaan dapat mempunyai banyak kebutuhan.
Satu kebutuhan dapat mempunyai beberapa pertanyaan.
Satu pertanyaan dapat menjadi satu konten.
Beberapa konten dapat saling terhubung.
Dan semuanya dapat diarahkan menuju landing page.
Maka:
SATU IDE
tidak harus berarti:
SATU KONTEN.
Ia bisa menjadi:
SATU EKOSISTEM.
Penutup
Pada #060, kita belajar:
KEBERHASILAN → POLA → SISTEM.
Pada #061, kita belajar:
SISTEM → PERTANYAAN → IDE.
Pada #062, kita belajar:
IDE → PRIORITAS → KONTEN YANG TEPAT.
Sekarang pada #063, kita melangkah lebih jauh:
KONTEN PRIORITAS → KONTEN TURUNAN → INTERNAL LINK → LANDING PAGE.
Maka perjalanan kita menjadi:
HASIL
↓
POLA
↓
SISTEM
↓
PERTANYAAN
↓
BANK IDE
↓
PRIORITAS
↓
KONTEN
↓
KONTEN PENDUKUNG
↓
INTERNAL LINK
↓
LANDING PAGE
↓
↓
PERTANYAAN BARU
Dan siklus kembali berjalan.
Jadi ketika satu ide penting muncul, jangan langsung bertanya:
“Bagaimana membuat artikel ini selesai?”
Coba tanyakan:
“Bagaimana ide ini bisa membantu pelanggan dari beberapa sudut pandang?”
Karena semakin lengkap kebutuhan pelanggan dijawab, semakin kuat pula hubungan antaraset digital yang kita bangun.
Jangan hanya membuat konten.
Bangun hubungan antar-konten.
Jangan hanya mengejar jumlah halaman.
Bangun sistem informasi.
Jangan mulai dari nol setiap kali.
Kembangkan apa yang sudah bekerja.
Lanjut ke Seri Edukasi UMKM Batam #064
Setelah satu ide berhasil dikembangkan menjadi beberapa konten, muncul pertanyaan berikutnya:
“Bagaimana mengatur konten-konten tersebut agar pelanggan tidak bingung dan selalu menemukan langkah berikutnya?”
Pertanyaan itulah yang akan kita lanjutkan pada Seri Edukasi UMKM Batam #064.