Dilihat : 72 kali
SERI EDUKASI UMKM BATAM #028
Pelanggan Bilang “Nanti Saya Kabari”, Tapi Tidak Kembali? Ini yang Bisa Dilakukan UMKM Batam
Pernah mendapatkan balasan seperti ini?
“Nanti saya kabari ya, Kak.”
Anda jawab:
“Siap, Kak.”
Kemudian menunggu...
Besok tidak ada kabar.
Lusa masih tidak ada.
Seminggu kemudian...
hilang.
Padahal sebelumnya calon pelanggan sudah:
-
bertanya harga,
-
meminta informasi,
-
melihat produk,
-
bahkan sudah mendapatkan penawaran.
Lalu apa yang salah?
Apakah pelanggan memang tidak tertarik?
Belum tentu.
Bisa jadi mereka masih mempertimbangkan.
Dan di sinilah banyak UMKM melakukan kesalahan:
berhenti begitu saja setelah pelanggan mengatakan “nanti”.
1. “Nanti” Tidak Selalu Berarti Tidak Mau
Ketika pelanggan mengatakan:
“Saya pikir-pikir dulu.”
bukan berarti:
“Saya tidak mau.”
Mungkin mereka sedang:
-
membandingkan harga,
-
menunggu gajian,
-
berdiskusi dengan pasangan,
-
meminta persetujuan atasan,
-
belum membutuhkan sekarang,
-
atau masih mencari informasi.
Jadi jangan langsung menghapus mereka dari daftar calon pelanggan.
Mereka masih merupakan prospek.
2. Jangan Langsung Mengejar Setelah Pelanggan Bilang Nanti
Kesalahan lain:
Pelanggan:
“Nanti saya kabari ya.”
Penjual:
“Baik Kak.”
Lima menit kemudian:
“Kak, jadi pesan?”
😅
Ini justru bisa membuat pelanggan merasa ditekan.
Lebih baik berikan ruang.
Balas:
“Siap Kak, silakan dipertimbangkan dulu. Kalau ada yang ingin ditanyakan, kami siap bantu.”
Sederhana.
Tidak memaksa.
Tetapi pintu komunikasi tetap terbuka.
3. Catat Calon Pelanggan yang Belum Closing
Ini sederhana tetapi sering dilupakan.
Kalau semua percakapan hanya tersimpan di WhatsApp, Anda akan kesulitan mengingat siapa yang:
-
sudah bertanya,
-
sudah menerima harga,
-
masih mempertimbangkan,
-
atau meminta dihubungi kembali.
Mulailah membuat daftar sederhana.
Misalnya:
| Nama | Kebutuhan | Status | Follow Up |
|---|---|---|---|
| Andi | Jasa A | Pertimbangkan | 3 hari |
| Budi | Produk B | Tanya harga | 2 hari |
| Siti | Jasa C | Siap beli | Besok |
Tidak perlu sistem mahal.
Spreadsheet sederhana pun cukup.
Yang penting:
jangan biarkan calon pelanggan hilang hanya karena lupa di-follow-up.
4. Follow Up dengan Informasi Baru
Ini salah satu cara paling efektif.
Jangan hanya:
“Kak, bagaimana?”
Berikan alasan untuk kembali berbicara.
Contohnya:
“Kak, kemarin sempat menanyakan produk ini. Kami baru ada pilihan ukuran yang lebih sesuai untuk kebutuhan Kakak. Kalau mau, saya kirim detailnya.”
Atau:
“Kak, saya kirimkan contoh hasil yang mirip dengan kebutuhan yang kemarin ditanyakan.”
Sekarang follow-up mempunyai nilai.
Bukan sekadar mengingatkan.
5. Jangan Selalu Menggunakan Diskon
Begitu pelanggan diam, banyak penjual langsung berpikir:
“Kasih diskon saja.”
Padahal pelanggan belum tentu keberatan dengan harga.
Bisa saja masalahnya adalah:
belum percaya.
belum membutuhkan.
belum memahami manfaatnya.
belum yakin dengan hasilnya.
Kalau setiap pelanggan diam langsung diberi diskon, Anda bisa kehilangan margin tanpa menyelesaikan masalah sebenarnya.
6. Cari Tahu Apa yang Membuat Mereka Ragu
Coba gunakan pertanyaan yang ringan.
Misalnya:
“Kak, kalau boleh tahu, yang masih dipertimbangkan lebih ke harga, waktu pengerjaan, atau kebutuhan produknya?”
Pertanyaan seperti ini bisa membuka informasi yang sebelumnya tidak Anda ketahui.
Mungkin pelanggan menjawab:
“Sebenarnya cocok, Kak. Tapi saya masih menunggu gajian.”
Nah.
Sekarang Anda tahu masalahnya.
Bukan produk.
Bukan harga.
Tetapi waktu pembelian.
7. Jangan Membuat Calon Pelanggan Merasa Bersalah
Hindari kalimat seperti:
“Kemarin katanya mau pesan.”
“Kok tidak jadi?”
“Kami sudah tunggu.”
“Jadi atau tidak?”
Calon pelanggan bisa merasa tidak nyaman.
Gunakan bahasa yang memberikan pilihan:
“Kalau kebutuhannya masih diperlukan, kami siap bantu kapan saja.”
atau:
“Kalau ingin menyesuaikan dengan budget, kami juga bisa bantu carikan pilihan yang lebih sesuai.”
Nada komunikasi seperti ini lebih nyaman.
8. Berikan Pilihan yang Lebih Mudah
Kadang pelanggan sebenarnya tertarik, tetapi pilihan yang diberikan terlalu berat.
Misalnya produk atau layanan memiliki beberapa versi.
Daripada bertanya:
“Jadi mau yang mana?”
coba bantu:
“Kalau untuk kebutuhan rumah tangga, saya sarankan pilihan A karena lebih praktis. Kalau untuk penggunaan lebih sering, pilihan B lebih cocok.”
Anda bukan sekadar menjual.
Anda membantu pelanggan memilih.
9. Landing Page Membantu Pelanggan Mengingat Kembali Produk Anda
Bayangkan pelanggan pernah melihat produk Anda seminggu lalu.
Kemudian mereka lupa:
“Kemarin saya lihat produk itu di mana ya?”
Kalau informasi hanya ada di status WhatsApp, mereka mungkin kesulitan menemukannya kembali.
Landing page dapat menjadi rumah digital bagi produk atau jasa Anda.
Calon pelanggan bisa kembali melihat:
-
foto produk,
-
manfaat,
-
harga,
-
promo,
-
keunggulan,
-
FAQ,
-
cara pemesanan,
-
dan WhatsApp.
Contohnya, sebuah produk seperti Magic Spin Mop 360 Batam dapat dikemas dalam landing page khusus sehingga calon pelanggan memiliki satu halaman yang mudah dibuka kembali ketika mereka ingin mempertimbangkan pembelian. Contoh Landing Page Magic Spin Mop 360 Batam
10. Jangan Takut Memberikan Waktu kepada Pelanggan
Ada perbedaan antara:
follow-up
dan
mengejar.
Follow-up:
“Kak, kami kirimkan informasi tambahan yang mungkin membantu pertimbangannya.”
Mengejar:
“Kak, jadi beli nggak?”
Yang pertama membangun hubungan.
Yang kedua bisa membuat pelanggan menjauh.
Ingat:
Tidak semua pelanggan harus membeli hari ini.
Tetapi pastikan ketika mereka siap membeli, bisnis Anda masih mudah ditemukan dan mudah dihubungi.
Lalu Kapan Sebaiknya Follow Up?
Tidak ada satu angka yang cocok untuk semua bisnis.
Namun Anda bisa membuat pola sederhana.
Follow Up Pertama
Setelah pelanggan memiliki waktu untuk mempertimbangkan.
“Halo Kak, izin follow up informasi yang kemarin ya. Kalau ada yang ingin ditanyakan, kami siap bantu.”
Follow Up Kedua
Berikan informasi atau manfaat tambahan.
“Kak, kami ada contoh penggunaan yang mungkin sesuai dengan kebutuhan Kakak kemarin.”
Follow Up Terakhir
Berikan ruang.
“Kalau saat ini belum membutuhkan, tidak masalah Kak. Kalau nanti diperlukan, silakan hubungi kami kembali.”
Setelah itu:
jangan terus mengejar.
Simpan sebagai prospek dan komunikasikan kembali jika memang ada informasi yang benar-benar relevan.
Hubungkan WhatsApp dengan Landing Page
Ini yang sering dilupakan UMKM.
WhatsApp bagus untuk percakapan.
Landing page bagus untuk memberikan informasi.
Google bagus untuk membantu ditemukan.
Review membantu membangun kepercayaan.
Kalau semuanya terhubung, perjalanan pelanggan menjadi lebih mudah.
Contohnya:
↓
Landing Page
↓
Informasi Produk
↓
Review
↓
↓
Penawaran
↓
Follow Up
↓
Pembelian
Bukan hanya:
Posting → Tunggu → Semoga ada yang beli.
Seri Sebelumnya Masih Berkaitan
Pada seri sebelumnya, kita membahas bahwa follow-up sebaiknya tidak dilakukan dengan cara mengejar pelanggan, tetapi dengan memberikan informasi yang relevan dan membantu pelanggan mengambil keputusan. Baca Seri #027: Cara Follow Up yang Tidak Terlihat Memaksa
Seri kali ini melanjutkan satu langkah lebih jauh:
Bagaimana menghadapi pelanggan yang mengatakan “nanti saya kabari”.
Karena sebenarnya mereka belum tentu hilang.
Mereka hanya belum siap mengambil keputusan.
Coba Audit Calon Pelanggan Anda
Hari ini, coba buka WhatsApp bisnis Anda.
Cari calon pelanggan yang:
☐ Pernah bertanya harga
☐ Pernah meminta katalog
☐ Pernah meminta informasi
☐ Pernah menerima penawaran
☐ Pernah mengatakan “nanti”
☐ Belum pernah membeli
Kemudian tanyakan:
Apakah mereka benar-benar tidak tertarik?
Atau:
Apakah kita belum melakukan follow-up dengan cara yang tepat?
Anda mungkin akan menemukan beberapa calon pelanggan lama yang sebenarnya masih berpotensi menjadi pembeli.
🎁 Landing Page Gratis untuk 100 UMKM Batam
Bagi pelaku UMKM Batam yang belum memiliki landing page, tersedia program:
PEMBUATAN LANDING PAGE GRATIS UNTUK 100 UMKM BATAM
Landing page dapat membantu bisnis menampilkan:
-
Produk atau jasa
-
Foto
-
Keunggulan
-
Manfaat
-
Testimoni
-
Harga atau estimasi
-
FAQ
-
Area layanan
-
Tombol WhatsApp
Tujuannya bukan membuat website yang rumit.
Tetapi menyediakan satu halaman yang bisa dikunjungi calon pelanggan kapan saja.
Sehingga ketika mereka belum membeli hari ini, mereka tetap bisa kembali melihat informasi bisnis Anda di kemudian hari.
Insight Seri Hari Ini
Calon pelanggan yang mengatakan:
“Nanti saya kabari.”
belum tentu berarti:
“Saya tidak mau.”
Mungkin mereka hanya:
belum siap.
belum yakin.
belum punya waktu.
atau
masih mempertimbangkan.
Karena itu jangan langsung menyerah.
Tetapi jangan pula mengejar terus-menerus.
Lakukan follow-up dengan:
informasi yang relevan,
bukti yang meyakinkan,
bahasa yang nyaman,
dan
ruang untuk mengambil keputusan.
Karena dalam pemasaran UMKM:
Tidak semua pelanggan membeli saat pertama kali melihat.
Ada yang melihat hari ini.
Bertanya besok.
Membandingkan minggu depan.
Dan baru membeli ketika mereka benar-benar siap.
Tugas kita adalah memastikan ketika saat itu tiba:
bisnis kita masih mudah ditemukan, masih mudah dipercaya, dan masih mudah dihubungi.
Ditemukan → Dipercaya → Chat → Ditawarkan → Follow Up → Siap Membeli.
